BudidayaKita

Budidaya Hewan dan Tanaman

menjala rupiah dengan budidaya udang vaname

via nutriad.com

Menjala Rupiah Dengan Budidaya Udang Vaname

October 28, 2016

Salah satu makanan favoritku adalah udang goreng. Hanya udang goreng tanpa ribet diolah macam-macam. Begitu saja buatku rasanya sudah sangat enak.

Namun di dunia ini ada banyak sekali jenis masakan yang menggunakan bahan dasar udang sehingga permintaan udang baik udang air tawar, air payau, ataupun udang laut di pasaran tidak pernah turun melainkan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah populasi manusia di dunia.

Akan tetapi, jumlah udang akan semakin berkurang jika tidak mulai dibudidayakan.

Meski ada beberapa orang yang alergi udang, namun sebagian besar orang sangat menyukai udang degan berbagai jenis variasi olahannya. Oleh sebab itu, meninjau kembali bisnis udang sebagai peluang bisnis tentunya bukan bualan belaka. Harga udang kian bulan kian naik sedikit demi sedikit.

Hal itu menandakan adanya peningkatan permintaan sementara produksinya bisa dibilang masih sama atau belum ada peningkatan. Dengan kata lain, petani udang belumlah bertambah pesat jumlahnya.

Kenapa ya kok petani udang itu masih sedikit? Ada mitos atau anggapan bahwa beternak udang itu susah, ribet, dan banyak resiko. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri bahwa alam masih menyediakan banyak udang, semisal udang laut dan udang sungai.

Faktanya, udang bukanlah binatang yang sulit untuk berkembang biak di alam. Logikanya, udang bukanlah binatang yang sulit dibudidayakan. Hanya saja sebagai aset yang dibudidayakan, maka ada trik-trik tertentu agar budidaya udang berhasil dengan baik.

Budidaya udang sebenarnya tidaklah sesulit mitosnya. Saat ini setidaknya ada dua macam cara budidaya udang, yakni dengan cara tradisional dan dengan cara modern. Kedua metode budidaya tersebut saat ini masih berjalan dengan baik dan untuk sementara waktu masih bisa mengisi kekosongan stok udang di pasaran.

Apakah budidaya udang sebatas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kuliner? Sebagian besar iya, namun budidaya udang untuk konsumsi hiburan, dalam hal ini adalah udang hias, juga sedang berjalan.

Baru-baru ini, maraknya trend aquascape berdampak pada peningkatan kebutuhan udang hias atau udang dengan corak yang indah dan tidak cocok untuk dikonsumsi. Namun dalam artikel ini, pembahasan utamanya adalah budidaya udang untuk konsumsi kuliner pada umumnya dan secara khusus membahas budidaya udang vaname.

Sebelum lebih jauh membahas budidaya udang vaname, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan beberapa jenis udang yang menjadi rekomendasi untuk dibudidayakan.

Apa itu Udang Vaname?

apa itu udang vaname?

via bioaqua.vn

Udang dengan nama vannamei atau lebih populer di Indonesia sebagai vaname ini asal-usulnya dari pesisir pantai Amerika Tengah dan mulai ditransmigrasikan ke Indonesia sekitar tahun 2000an. Udang ini sejatinya adalah udang air payau yang secara alami berada pada pertemuan sungai dan laut di daerah asalnya sana.

Berbeda dengan udang windu dan udang galah, udang yang kebule-bulean ini ternyata lebih tahan penyakit sehingga ketika udang ini mulai diperkenalkan di Indonesia, banyak pengusaha budidaya udang yang tertarik karena udang vaname tidak hanya mudah dibudidayakan, namun juga harganya relatif mahal di pasaran.

Secara umum, udang vaname dapat hidup dengan baik pada daerah dengan suhu di atas 22 derajad celcius. Artinya, ia dapat tumbuh dan berkembang biak pula di pesisir pantai di Indonesia yang panasnya aduhai jikalau siang. Udang vaname merupakan binatang pemakan segala, namun tentu sebaiknya udang ini tidak makan nasi pecel atau hamburger.

Udang vaname dapat tumbuh dengan baik dengan memangsa binatang-binatang kecil seperti rebon, plankton, lumut, tumbuhan air, larva kerang, makanan khusus untuk ternak/ pelet udang, bahkan udang ini tega memakan kawannya sendiri jika memungkinkan.

Saking rakusnya, udang ini sangat cepat tumbuh. Udang ini hanya akan berhenti makan jika sudah kenyang, dan akan makan lagi jika mulai sedikit merasa lapar. Oleh karena itu udang ini sangat diminati petambak udang karena jarang menyia-nyiakan makanan.

Udang vaname juga termasuk salah satu kategori udang yang tidak bikin bangkrut para petambak. Hal ini lantaran mereka sangat peka terhadap makanan terutama makanan alam yang secara alami terdapat pada tambak.

Seperti halnya udang lainnya, ketika udang ini tumbuh besar, maka ia akan berganti kulit. Sebenarnya saat-saat pergantian kulit ini merupakan masa paling rentan bagi semua jenis udang karena pada situasi ini, mereka tidak punya pelindung tubuh.

Jika tubuh mereka empuk, tak hanya manusia yang senang, kawan mereka sendiri ikut senang karena mereka semakin merasa lapar.

Lho kok? Betul! Ketika udang berganti kulit, ada semacam cairan yang keluar seiring kulit mereka lepas dan cairan ini menurut para ahli mampu merangsang meningkatnya nafsu makan udang sehat lainnya sehingga mereka tega menjadi kanibal.

Tetapi, ganti kulit bukanlah kendala dalam budidaya udang. Jika tempat hidup atau tambak udang memadai dan menyediakan makanan yang berlimpah, maka udang yang berganti kulit akan tetap aman.

Justru mereka harus ganti kulit agar tidak hanya tampak keren, tetapi hal itu tanda bahwa mereka tumbuh besar. Semakin besar, semakin baik untuk datangnya rejeki.

Keunggulan lain dari budidaya udang vaname, selain mereka memiliki daya tahan bagus, kemampuan adaptasi yang tinggi, dan cepat tumbuh besar, udang ini bisa dibudidayakan dengan populasi padat.

Oleh karena itu sebenarnya budidaya udang vaname bisa dibilang hemat tempat. Kemampuan mereka dalam mencari makanan membuat mereka tetap tumbuh besar meskipun tempat hidup mereka sumpek.

Hingga saat ini, di Indonesia budidaya udang vaname dilakukan secara tradisional dan modern. Namun sejumlah petambak percaya bahwa budidaya udang vaname secara tradisional justru merupakan metode yang tepat karena udang tersebut dapat tumbuh pesat dan berukuran besar.

Kenapa kok gitu? Bisa jadi secara tradisional, habitus tambak udang mirip dengan habitus mereka yang ada di alam.

Mengenal Udang Galah

mengenal udang galah

via advocate.gaalliance.org

Udang galah merupakan udang air tawar yang besarnya bisa mencapai seukuran lengan orang dewasa. Hal ini membuat udang galah tampak seperti lobster.

Namun, udang galah yang berukuran jumbo tersebut biasanya didapat di alam seperti sungai-sungai besar di daerah Sumatra dan Kalimantan. Sementara, udang galah yang sering nongol di pasar, terutama di pulau Jawa, kebanyakan adalah udang galah hasil budidaya.

Berbeda dengan udang vaname, udang galah membutuhkan waktu lebih lama untuk panen, yakni sekitar 5-6 bulan, sementara udang vaname hanya butuh waktu 3-4 bulan saja untuk bisa dinikmati hasilnya. Dalam hal perawatan, baik udang galah ataupun udang vaname bisa dibilang mirip, yakni tidak terlalu sulit.

Di pasaran, udang galah dihargai antara 70.000-85.000 rupiah per kilonya. Untuk ukuran besar, satu kilo udang galah biasanya hanya berisi 4-6 ekor saja. Sementarai itu, harga bibit udang galah hanya berkisar antara 100-200 rupiah saja per ekornya.

Syarat penting bagi kelangsungan hidup udang galah pada kolam budidaya adalah ketersediaan aliran air. Udang galah yang dipelihara di perairan yang tidak mengalir akan memiliki resiko kematian lebih besar jika dibandingkan dengan kolam yang sirkulasi airnya bagus.

Di Indonesia, udang galah bisa dibudidayakan di tambak yang memiliki tanah liat dan berpasir, di kolam beton ataupun kolam terpal.

Beberapa hal penting yang memicu keberhasilan budidaya udang galah diantaranya adalah: cukupnya sinar matahari sehingga air memiliki temperatur ideal, sirkulasi air yang bagus sehingga air mempunyai kadar oksigen yang cukup.

Seperti hanlnya udang vaname, udang galah merupakan udang pemakan segala. Dalam budidaya udang galah, para petani udang biasanya mengandalkan pakan alami dan pakan buatan. Namun untuk mencukupi kebutuhan pakan, tentunya pakan buatan ini dosisnya lebih banyak daripada pakan alami.

Meski pakan buatan untuk udang galah relatif banyak macamnya, sebaiknya jenis pakan yang dipilih adalah pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang baik seperti misalnya protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Semakin baik pakan yang dipilih tentu saja akan berpengaruh pada hasil panennya kelak.

Pemberian pakan buatan yang berlebihan bukan berarti tidak ada efek sampingnya. Jika pakan buatan ini tidak habis dikonsumsi udang, pakan ini akan berubah menjadi racun sekaligus biang penyakit yang berbahaya bagi kelangsungan hidup udang galah.

Secara umum, lahan yang dibutuhkan untuk habitat udang baik di tambak maupun di kolam bisa dibilang mirip. Sebelum lahan diisi air, lahan terlebih dahulu ditaburi dengan pasir, lumpur tanah liat, pupuk kandang, dan kapur.

Setelah itu barulah lahan diisi air dan didiamkan selama 2-3 minggu agar air dihidupi oleh plankton dan tumbuhan air yang bisa dijadikan pakan alami bagi udang.

Di sisi lain, khusus bagi kolam terpal dan beton, ada baiknya kolam diberi tambahan tanaman air seperti enceng gondok yang berfungsi untuk menetralisir racun dalam air akibat pakan buatan yang tidak habis termakan udang.

Selain itu, sebaiknya juga tersedia tempat berlindung udang ketika molting dengan cara menaruh potongan-potongan paralon ke dasar kolam. Setelah semua persiapan tersedia, yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan sirkulasi air atau air yang mengalir dalam hal ini wajib hukumnya.

Hama bagi udang galah pada tambak dan kolam yang terhubung dengan sungai adalah ikan dan kepiting, dan maling. Solusi yang paling tepat untuk menanggulangi hama ini adalah pengawasan ekstra, dan di sekeliling kolam dipasang jaring sehingga ikan tidak bisa masuk ke tambak.

Apa itu Udang Windu?

apa itu udang windu?

via zealaqua.com

Udang windu atau udang macan merupakan udang jenis air payau meski klasifikasi yang sebenarnya udang tersebut merupakan udang air laut. Udang yang dalam beberapa hal memiliki beberapa kemiripan dengan udang vaname ini merupakan hewan nocturnal atau hewan yang suka bergadang.

Namun ini bukan bergadang biasa, mereka bergadang untuk mencari makan dan siang harinya mereka lebih senang bersembunyi di bawah lumpur atau pasir.

Udang windu yang senang berada dibawah lumpur ini sebenarnya bukan karena untuk bersembunyi, udang-udang tersebut memang lebih memilih mencari makan di dasar air. Sebagaimana udang vaname, udang windu merupakan udang yang sangat gemar makan dan selalu merasa lapar.

Dalam pembudidayaan udang windu, para petani udang harus banyak memberi mereka makan karena jika tidak, mereka akan memangsa teman mereka sendiri terutama udang-udang yang sedang berganti kulit/molting.

Kulit udang windu tergolong sangat keras dibanding udang yang lainnya. Udang ini disebut juga sebagai udang macan karena kulit luarnya yang keras itu berwarna biru dengan belang-belang coklat kekuningan seperi loreng macan.

Sebenarnya tidak mirip macan juga. Tapi ya sudahlah, yang jelas kulitnya yang keras tersebut merupakan pelindung penting karena mereka suka saling menyakiti satu sama lain.

Saat ini udang windu jarang dibudidayakan karena sering terserang penyakit kulit seperti jamur atau bintik-bintik putih (white spot) yang bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidup udang windu. Karena tingkat kesulitan yang lumayan tinggi, para petani udang beralih ke udang vaname sebagai pengganti udang windu.

Menurut saya pribadi, udang windu merupakan udang yang rasanya paling enak diantara udang konsumsi lainnya. Kulitnya yang keras menyebabkan udang ini memiliki rasa mirip kepiting. Jadi kalau mau kepiting yang empuk ya udang windu itu solusinya.

Meski sudah jarang dibudidayakan, udang ini tetap memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran. Saat ini para petani hanya membudidayakan udang windu dalam skala kecil dan kebanyakan merupakan para petani kecil atau justru malah para petani legendaris yang dulunya pernah sukses membudidayakan udang windu.

Memang benar, dulu sebelum ada wabah white spot, udang windu merupakan udang papan atas yang saat ini posisinya digeser oleh udang vanama. Udang windu yang membutuhkan waktu 120 hari untuk pembesaran hingga masa panen merupakan bisnis yang sangat menguntungkan.

Saat inipun sebenarnya budidaya udang windu masih menguntungkan lantaran biaya produksi tergolong murah sementara harga jualnya masih tinggi, berkisar 70.000-80.000 rupiah perkilonya.

Hanya karena di masa lalu banyak petani udang jatuh gara-gara white spot, banyak petani udang yang trauma untuk membudidayakan udang windu sehingga saat ini seolah-olah udang ini tidak beredar lagi.

Peluang Bisnis Usaha Budidaya Udang Vaname

peluang usaha budidaya udang vaname

via fishconsult.org

Dari beberapa info dasar yang telah diuraikan di bagian sebelumnya, kini saatnya kita melihat beberapa hal terkait budidaya udang vaname sekaligu peluang usaha dari budidaya tersebut.

Dari beberapa metode budidaya udang vaname, artikel ini membahas satu metode yang paling sederhana, murah biayanya, dan hasil udangnya justru malah diminati oleh pasar, yakni budidaya udang vaname dengan mengggunakan tambak udang.

Untuk membudidayakan udang vaname, langkah-langkah yang harus dipersiapkan bisa dibilang gampang-gampang susah. Yang jelas, kamu butuh modal besar untuk memulai usaha ini. Berikut adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam budidaya udang vaname:

  1. Tambak Udang
  2. Dari berbagai macam cara budidaya udang, hal yang laing penting yang harus dipersiapkan adalah tempatnya. Setidaknya ada tiga macam lahan untuk membudidayakan udang, yaitu tambak udang, kolam beton, dan kolam terpal. Dari ketiga jenis lahan tersebut, tambak udang merupakan lahan tertua yang dipercaya mampu menghasilkan panen yang berlimpah.

    Dari segi hasil, tambak udang seringkali menghasilkan udang dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan udang yang dibudidayakan di kolam. Namun sayangnya, pengolahan tambak udang jauh lebih sulit dibandingkan dengan kolam. Membudidayakan udang dengan sistem tambak dikenal sebagai cara tradisional dalam membudidayakan udang.

    Sederhananya, tambak udang merupakan lahan untuk membudidayakan udang yang dibuat sedekat dan semirip mungkin dengan habitus asli udang yang dibudidayakan. Untuk udang windu dan udang vanama, tambak udang biasanya dibuat di daerah pesisir yang airnya memiliki kadar garam tinggi atau payau.

    Membuat tambak udang tidak sesederhana seperti membuat lubang di tanah lantas mengisinya dengan air dan menabur benih udang. Tidak demikian. ada beberapa tahap yang harus dipersiapkan untuk membuat tambak udang.

    Biasanya, tambak udang di buat di daerah pesisir yang digenangi air. Genangan itu diperdalam dan dibuat kapling-kapling. Idealnya, setiap kapling memiliki luas 2000-2500 meter persegi.

    Tahap awal setelah kapling-kapling tersebut jadi adalah mengeringkan total tiap-tiap kapling yang akan dijadikan lahan. Pengeringan ini dilakukan selama beberapa hari hingga permukaan tanah berubah menjadi kering dan pecah-pecah.

    Fungsi pengeringan lahan ini adalah untuk membunuh hama-hama yang akan menyerang udang nantinya seperti ikan, kepiting, dan zat amoniak beracun penyebab kematian pada udang. Setelah lahan kering, lahan harus dicangkul terlebih dahulu untuk membalik posisi tanah.

    Setelah itu, seluruh permukaan kapling ditaburi dengan pupuk kandang, kapur dolomit pertanian, zat penyerap racun seperti zeolite dan zeoplankton.

    Tahap selanjutnya, setelah tahap persiapan tanah selesai adalah pengisian air. Karena air yang dipergunakan adalah air disekitar lahan, maka diperlukan penyaringan untuk menghindari kemungkinan adanya ikan yang terbawa masuk ke tambak.

    Setelah air terisi, bukan berarti benur atau benih udang bisa ditaburkan, genangan air ini harus ditunggu 2-3 minggu lamanya hingga plankton hidup subur di lahan tersebut. Plankton ini merupakan pakan alami udang sekaligu pakan cadangan jika pemberian pakan buatan masih kurang.

  3. Menabur Benih Udang
  4. Untuk membudidayakan udang vaname di tambak udang, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lahan sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah pemilihan bibit udang alias benur.

    Tentu saja kita akan kesulitan untuk memilih bibit udang satu-per satu demi mendapatkan bibit yang berkualitas kan?

    Tapi sepertinya hal ini tidak mungkin kita lakukan lantaran kita tidak membeli satu atau dua ekor saja, melainkan ribuan. Maka dari itu, silahkan membeli bibit udang di tempat-tempat yang sering direkomendasikan banyak petani udang.

    Jumlah benih yang harus dipersiapkan selalu menyesuakan luas lahan yang kita miliki. Biasanya, perbandingan ideal untuk jumlah benih dengan luas lahan adalah 100 ekor udang per meter.

    Sehingga, jika kita memiliki lahan 2500 meter persegi, artinya lahan tersebut mampu menampung 250.000 ekor udang. Pastikan kamu memilih benih yang berusia sekurang-kurangnya satu minggu setelah penetasan.

    Hal penting yang harus dilakukan ketika menabur udang bisa kita lakukan sebagaimana biasanya dilakukan oleh petani tradisional, yakni benih udang dimasukkan bersamaan dengan kantong plastiknya.

    Diamkan dulu selama 15 menit agar udang tersebut beradaptasi dengan suhu tambak. Setelah itu, silahkan buka kantong plastik dan biarkan udang-udang tersebut bebas berkeliaran.

  5. Pemberian Pakan
  6. Hingga udang berusia 70 hari, kita tidak perlu memberi mereka pakan buatan. Mereka cukup kenyang dengan memakan plankton yang hidup di tambak.

    Maka dari itu, kita harus selalu menjaga ketersediaan plankton dengan cara menabur pupuk kandang dan prebiotik seminggu sekali untuk menjaga populasi plankton dalam tambak. Pastikan juga untuk selalu menjaga volume dan ph air agar udang merasa nyaman.

    Setelah 70 hari, barulah kita memberikan pakan ekstra berupa pelet udang agar udang yang sudah mulai tumbuh besar tidak kelaparan dan mulai menyerang satu sama lain.

    Bagaimanapun juga, udang yang mulai tumbuh besar tidak akan cukup kenyang dengan makan plankton saja. Baru ketika udang berusia 120 hari atau kurang dari itu, udang sudah bisa mulai dipanen. Biasanya udang yang berusia ini memiliki bobot 1 kg per 50 ekor.

  7. Pemanenan
  8. Waktu yang baik untuk memanen udang vaname adalah malam hari, namun bukan berarti udang ini tidak bisa dipanen pada siang hari. Tetap bisa kok. Udang bisa dipanen dengan menggunakan jala tebar atau jaring yang ditarik oleh 3-4 orang. Teknik penangkapan semacam ini tentunya akan menyisakan udang di tambak.

    Penangkapan total hanya bisa dilakukan dengan cara pengeringan tambak sekaligus untuk mempersiapkan kembali lahan untuk bibit selanjutnya.

  9. Estimasi Biaya Yang Diperlukan
  10. Misalnya kita hanya membudidayakan udang dalam skala kecil, yakni dengan lahan seluas 2500 meter persegi dengan kapasitas 250.000 ekor udang, kita bisa mulai memperkirakan seluruh biaya produksi nantinya. Namun kita perlu tahu terlebih dahulu berapa kira-kira pendapatan yang bisa kita peroleh ketika panen nantinya.

    Pada masa panen, kita tidak akan mendapatkan jumlah udang yang sama seperti ketika kita dulu menebarnya. Dalam budidaya udang, selalu ada hitungan kematian. Normalnya jika panen sukses, kematian selama pembudidayaan udang adalah 10%. Artinya, per 250.000 ekor benih kita hanya akan memanen sekitar 225.000 ekor saja nantinya.

    Jika kita memanen dengan bobot udang ukuran 50 ekor per kilo lalu menjualnya dengan harga 50.000 rupiah per kilo, berapa hasilnya ya? Rumusnya adalah (225.000:50)x50.000= 225.000.000 rupiah. Ih wow!!! Tapi berapa biaya produksinya?

    Mari kita hitung dengan membengkakkan biaya produksinya

    1. Persiapan lahan
      • Sewa lahan: 3.000.000
      • Tenaga penggarap lahan: 1.500.000
      • Pupuk dan zeoplankton: 6.000.000
      • Pengairan: 1.000.000
      • Peralatan: 5.000.000
      • Lain-lain: 5.000.000
    2. Pembibitan
      • Bibit: 2.500.000
      • Tenaga: 500.000
      • Lain-lain: 500.000
    3. Operasional Perawatan
      • Tenaga: 6.000.000
      • Pakan: 5.000.000
      • Pupuk dan zeoplankton: 3.000.000
      • Lain-lain: 5.000.000
    4. Operasional Pemanenan
      • Tenaga: 4.000.000
      • Lain-lain: 1.000.000
    5. TOTAL BIAYA PRODUKSI: 49.000.000

    Dari perhitungan kasar semacam itu dengan menambah angka pada jumlah produksi dan mengurangi angka pada penjualan, kita masih bisa mendapat untung ratusan juta.

    Dari pendapatan sebesar 225.000.000-49.000.000 kita masih bisa untung sebesar 176 juta rupiah. Kalaupun kita potong lagi separo untung kita, tentu kita masih sangat untung hanya dalam waktu tiga bulan saja.

    Nah, bagaimana menurutmu mengenai bisnis ini? Menguntungkan bukan? Kita hanya perlu berani mencoba saja kok. Itupun kita bisa menyewa orang sebagai tenaga operasional.

    Jika kita menempatkan diri sebagai pemodal, maka yang perlu kita tahu betul adalah trik dan tips dalam budidaya udang vaname, apa saja yang dibutuhkan, apa saja kendalanya, dan bagaimana menanggulanginya, selebihnya biarkan orang lain yang bekerja untuk kita sesuai dengan prosedur yang kita buat sendiri.

    Akhir kata, selamat mencoba!

    Sharing is Caring

    «

    »


KATEGORI

BACAAN TERKAIT

Copyright © 2018 BudidayaKitaContact / Privacy Policy / Copyright / IP Policy / Term of Service