BudidayaKita

Budidaya Hewan dan Tanaman

bisnis mudah untung melimpah dengan budidaya singkong gajah

via pinterest.com

Bisnis Mudah Untung Melimpah Dengan Budidaya Singkong Gajah

October 30, 2016

Di Indonesia, boleh dibilang singkong menempati peringkat dua setelah padi dalam hal sumber karbohidrat atau sebagai sumber bahan makanan pokok. Baik beras padi maupun singkong dapat diolah begitu saja (dalam bentuk segar) ataupun dalam bentuk olahan seperti misalnya tepung.

Namun dari sisi lain, singkong tanpa dijadikan tepung terlebih dahulu memiliki banyak peluang untuk diproses menjadi bahan makanan dan minuman, sementara kita cukup puas memanfaatkan beras padi sebagai nasi dan bubur.

Di daerahku, singkong dapat diolah menjadi berbagai macam jajanan pasar seperti thiwul manis, nasi thiwul, gathot, kicak, gethuk, kripik manis, kripik asin, balung kethek, singkong goreng, singkong kukus, tape singkong, badheg tape (tuak), dan masih banyak lagi sampai aku tidak hapal namanya.

Dan juga, ketika singkong telah diolah menjadi tepung, maka tepung singkong atau dikenal juga dengan tepung tapioka ini dapat diolah lagi menjadi berbagai macam jenis makanan yang banyak sekali jumlahnya.

Selain itu, dalam level industri lain selain makanan, singkong merupakan salah satu bahan utama dari pembuatan bioetanol dan spirtus yang sangat penting untuk keperluan medis dan lainnya. Oleh karena itu, sebenarnya singkong merupakan hasil pertanian yang memiliki posisi penting dalam kehidupan global.

Hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan singkong tidaklah sedikit mengingat pertanian singkong tidak sebesar dan seluas pertanian padi.

Padahal, penanaman singkong jauh lebih mudah dibandingkan dengan tanaman sumber karbohidrat lainnya seperti misalnya padi, jagung, dan kentang.

Melihat fenomena itu, melalui artikel ini aku ingin berbagi informasi seputar pembudidayaan singkong, khususnya singkong gajah yang saat ini sedang naik daun, sekaligus memaparkan peluang bisnis dari budidaya singkong gajah ini yang hasilnya nyata membuat petani singkong makmur.

Jenis-Jenis Singkong

jenis jenis singkong

via blogs.iita.org

Ada banyak jenis singkong yang tumbuh dan dibudidayakan di Indonesia. Jenis-jenis tersebut boleh dibilang sebagai hasil rekayasa kreatif tanaman singkong sehingga menghasilkan bibit singkong yang berkualitas dalam segi kualitas maupun kuantitas.

Menurut beberapa petani maupun produsen makanan olahan berbahan singkong, tiap-tiap singkong memiliki kekhasan tersendiri dan terkadang ada singkong tertentu yang cocok untuk diolah menjadi makanan atau minuman tertentu.

Berikut ini merupakan beberapa jenis singkong yang sering dibudidayakan oleh para petani dan diminati di pasaran.

  1. Singkong Gajah
  2. foto singkong gajah

    via pinterest.com

    Singkong ini merupakan singkong unggulan varietas baru yang awal mulanya dibudidayakan di Kalmiantan Timur. Yang membuat singkong ini begitu istimewa adalah hasil panennya yang melimpah ruah.

    Satu pohon singkong gajah ini bisa menghasilkan umbi singkong hingga seberat 50 Kg. Hal ini merupakan angka yang fantastis mengingat rata-rata pohon singkong pada umumnya hanya menghasilkan 5-8 Kg umbi saja.

    Singkong gajah, sebagaimana singkong lainnya, bisa diolah menjadi beraneka jenis makanan. Akan tetapi, kebanyakan panen singkong gajah yang melimpah ruah itu laris manis untuk memenuhi kebutuhan industri tepung dan industri bioetanol.

    Sehingga pada umumnya, petani besar singkong gajah telah bekerja sama dengan pabrik tertentu sehingga hasil panen mereka tidak akan dipasarkan melainkan langsung dibeli oleh pabrik.

    Tanaman singkong gajah memiliki beberapa ciri, diantaranya; tiap-tiap daun muda atau pucuk tanaman yang ditumbuhi daun baru berwarna ungu kemerah-merahan. Ketika tanaman ini mulai menginjak usia tiga hingga empat bulan, tunas pucuk dari batang utama tanaman ini akan bercabang tiga.

    Sebagai mana daun muda, ujung batang muda singkong gajah juga berwarna ungu kemerah-merahan dan daun singkong gajah, sebagaimana namanya, lebih besar dan lebar jika dibandingkan dengan singkong biasa.

  3. Singkong Manggu
  4. foto singkong manggu

    via pinterest.com

    Singgkong yang rasanya terkenal enak untuk dijadikan bahan makanan dan masakan ini berasal dari Jawa Barat. Singkong ini berukuran lebih kecil dari singkong gajah dan memiliki masa panen yang lebih pendek, yakni 7 bulan.

    Namun, satu pohon singkong manggu hanya menghasilkan umbi paling banyak 10 Kg dan itupun jika tanaman tersebut ditanam dengan baik.

  5. Singkong Mentega
  6. foto singkong mentega

    via pinterest.com

    Seperti namanya, singkong ini berwarna kuning mentega. Singkong mentega ini merupakan idola bagi para pecinta tape singkong khususnya tape singkong oleh-oleh khas Bandung.

    Singkong mentega juga sangat cocok untuk dijadikan cake atau brownies lho. Tentu rasanya sangat enak dan lembut. Singkong ini juga berukuran tidak terlalu besar dan biasanya dipanen ketikan pohon singkong telah berusia 13 bulan.

  7. Singkong Putih
  8. foto singkong putih

    via pinterest.com

    Sebagaimana singkong mentega, singkong putih juga sangat oke untuk dijadikan tape, keripik, singkong rebus, atau gethuk singkong. Tiap-tiap pohon singkong putih ini bisa menghasilkan umbi seberat 3-5 Kg saja dengan masa tanam kurang lebih 9 bulan.

  9. Singkong Mukibat
  10. foto singkong mukibat

    via pinterest.com

    Mukibat ini adalah nama seseorang yang menemukan varietas singkong baru pesaing singkong gajah. Berhasil ditemukan oleh pak Mukibat yang berasal dari Ngadiluwih dengan teknik okulasi, singkong tersebut diberi nama singkong Mukibat. Satu pohon singkong mukibat bisa menghasilkan sekitar 50 Kg umbi singkong dengan masa panen 13 bulan.

Panduan Cara Budidaya Singkong

panduan cara budidaya singkong

via croptrust.org

Secara umum, cara membudidayakan singkong dari beragam jenisnya bisa dibilang sama yang mencangkup pembibitan, penyiapan lahan, perawatan dan pemanenan. Untuk itu, meskipun yang akan dibahas pada bagian ini khusus mengenai budidaya singkong gajah, tak menutup kemungkinan bahwa cara ini juga berlaku untuk singkong jenis lainnya.

  1. Pembibitan
  2. Bibit singkong pada umumnya selalu menggunakan batang utamanya yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur ideal dari batang pohon yang bisa dijadikan bibit berkisar antara tujuh hingga delapan bulan.

    Potonglah batang singkong dengan panjang kira-kira 20 cm dengan diameter kurang lebih 1,5 cm untuk mendapatkan bibit yang memiliki kemungkinan hidup tinggi dan kualitas hidup yang baik. Bibit ini nantinya akan ditancapkan pada lahan yang telah dipersiapkan.

    Tidak sampai satu bulan, tunas-tunas muda akan tumbuh dan disusul oleh pertumbuhan akar yang nantinya akan berubah menjadi umbi singkong.

  3. Penyiapan lahan
  4. Singkong gajah merupakan tanaman yang bisa tumbuh di dataran tinggi maupun dataran rendah, namun tumbuhan ini tidak senang pada lahan yang terlalu benyak menyimpan air sehingga perkebunan singkong pada umumnya selalu berada di dataran tinggi dengan kondisi tanah yang tidak terlalu lama menyimpan air.

    Meski demikian, tanaman ini juga harus selalu disiran dan jangan dibiarkan terlalu lama kering.

    Lahan yang baik untuk penanaman singkong gajah adalah lahan yang mendapatkan cukup sinar matahari. Sebaiknya, untuk menanam singkong gajah, lahan dibuat dan dibagi menjadi beberapa bedengan dengan ketinggian berkisar kurang lebih 30-50 cm dan lebar 70 cm.

    Namun tanah utama yang mengalasi bedengan tersebut baiknya juga tanah yang gembur sehingga seluruh lahan terlebih dahulu harus digemburkan untuk kemudian di buat bedengan.

    Singkong gajah juga membutuhkan pupuk lho. Akan tetapi pupuk yang paling ideal untuk penanaman singkong gajah merupakan pupuk organik yang bisa berupa pupuk kandang, pupuk kompos, atau pupuk organik cair dan mikroorganisme pengurai sehingga tanah benar-benar gembur dan kaya nutrisi.

    Khusus untuk pupuk dasar, yakni pupuk kandang atau kompos, sebaiknya ditaburkan bebarengan dengan pencangkulan atau penggemburan lahan sehingga pupuk tersebut benar-benar tercampur dan menyatu dengan tanah.

    Idealnya, satu hektar lahan membutuhkan kurang lebih dua ton pupuk kandang/pupuk kompos. Selanjutnya, pupuk cair atau mikroorganisme tambahan ditaburkan pada bedengan yang telah dibuat.

    Setelah lahan dipersiapkan, sebaiknya lahan tersebut didiamkan terlebih dahulu selama kurang lebih dua minggu sebelum bibit singkong mulai ditancapkan.

    Hal ini dilakukan agar mikroorganisme bekerja terlebih dahulu mengubah campuran tanah dan pupuk organik menjadi mineral yang mudah diserap oleh akar singkong yang baru tumbuh.

    Teknik membuat bedengan ini nantinya penting untuk pertumbuhan akar singkong dan juga mempurmudah pemanenan singkong. Dengan adanya bendengan, disamping membuat lahan singkong enak dilihat, cekungan antar bedengan difungsikan sebagai area penyiraman.

    Sehingga, akar singkong tidak tergenang air karena berada lebih atas dari pada lahan resapan air. Hal ini penting juga untuk menanggulangi musim penghujan yang seringkali menggenangi lahan singkong.

    Genangan air terlalu lama akan menurunkan kualitas singkong dan bahkan bisa menyebabkan pembusukan akar sehingga tanaman singkong tidak hanya mandul, melainkan mati (pada tingkat ekstrimnya).

    Bedengan juga berfungsi untuk menyimpan unsur hara agar tidak terbawa air. Karena tanah bedengan ini sangat gembur dan banyak berpori-pori, akar singkong bisa tumbuh menyebar dan gampang membesar.

  5. Penanaman
  6. Seperti yang telah disinggung pada bagian sebelumnya, penanaman bibit singkong tidaklah rumit, cukup menancapkan potongan batang singkong yang telah dijadikan bibit ke dalam tanah bedengan.

    Jika lahan untuk menanam singkong gajah ini bisa dipastikan subur, maka jarak tanam antar tanaman bisa dibuat lebih longgar agar akar dari satu tanaman singkong bisa lebih leluasa menyebar dan menimbun makanan. Hal ini memungkinkan satu tanaman singkong menghasilkan sekitar 50 kg umbi singkong.

    Sebaliknya, jika lahan untuk menanam singkong gajah ini terpaksanya merupakan tanah yang kurang subur, sebaiknya jarak tanaman dibuat lebih rapat lagi sehingga satu lahan ini ditumbuhi oleh banyak pohon singkong dan menghasilkan panen dengan jumlah banyak pula karena tanaman yang ditanam juga banyak.

    Jarak ideal penanaman singkong gajah ini, untuk lahan subur, idealnya berkisar antara 1-1,5 meter. Sementara untuk lahan yang tidak subur jarak tanaman singkong bisa dibuat 50 cm per tanaman.

  7. Perawatan
  8. Perawatan singkong gajah meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan penanggulangan hama. Jika tanaman singkong ini ditanam pada musim kemarau, sebaiknya dalam seminggu dilakukan penyiraman setidak-tidaknya dua kali dengan cara mengalirkan air pada sela-sela bedengan.

    Air tersebut nantinya akan meresap ke bawah sekaligus meresap ke pinggir-pinggir bedengan hingga permukaan bedengan paling atas.

    Sementara dalam hal pemupukan, jika dirasa tanaman cukup subur dengan ciri-ciri batang membesar, meninggi, berdaun banyak dan lebat, maka tidak perlu dilakukan pemupukan tambahan. Namun jika pertumbuhan singkong dirasa lambat, maka tanah boleh diberi pupuk organik cair yang dicampurkan dengan air kemudian disiramkan di area bedengan.

    Pemangkasan yang dimaksud dalam hal ini adalah memangkas adanya pertumbuhan cabang yang terlalu banyak. Idealnya, singkong gajah cukup memiliki tiga cabang utama yang terdapat di pucuk.

    Jika tumbuh cabang baru di bawahnya, sebaiknya cabang tersebut di pangkas karena dengan munculnya cabang tersebut maka pertumbuhan umbi akan sedikit melambat atau bahkan berkurang. Singkong gajah ini nantinya akan tumbuh hingga 5-8 meter.

    Hama yang menyerang tanaman singkong bisa dibilang sangatlah sedikit. Hampir bisa dibilang hewan seperti belalang dan ulat tidak pernah menyerang daun tanaman singkong. Namun satu-satunya hama yang paling mengesalkan adalah tikus sawah yang sering menggerogoti umbi singkong.

    Jangan pernah membiarkan tikus sawah ini senang berada di area tanam singkong karena sekalinya terdapat dua atau tiga tikus, maka lama kelamaan kawan-kawan tikus ini akan ikut bermukim di sana dan menghabiskan umbi singkong.

    Untuk itu, gunakan racun tikus bila perlu dan pastikan tikus tersebut mati tetapi tidak berada di dalam lubang yang dekat umbi karena bangkainya dikhawatirkan turut membaui umbi singkong terlebih jika singkong akan di panen.

    Pengendali tikus yang alami adalah biarkan saja jika ada ular berkeliaran di area tanam singkong (biasanya malam hari), laranglah jika ada pemburu ular yang suka berburu di area tanam singkong.

    Seringkali kamu akan mendapati banyak tanaman liar seperti rumput yang tumbuh di area singkong. Sebaiknya tanaman pengganggu tersebut disingkirkan karena selain tak sedap dilihat mata, tumbuhan tersebut akan merampok unsur hara yang terdapat di tanah.

  9. Kondisi Khusus
  10. Yang dimaksudkan sebagai kondisi khusus dalam hal ini tanaman singkong ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain seperti misalnya cabe, terong, dan lain-lain. Memang kebanyakan petani suka memanfaatkan tanah seoptimal mungkin dengan memanfaatkan celah-celah lahan untuk ditanami tanaman produktif lainnya.

    Khusus untuk tumpang sari tanaman singkong, pastikan tanaman lain tersebut merupakan tanaman yang tingginya tidak melebihi tanaman singkong sehingga daun-daun singkong yang sangat doyan matahari itu tidak terganggu oleh tanaman lain.

    Untuk penanaman yang demikian, maka baiknya jarak tanam antar pohon singkong dibuat lebih lebar lagi, yakni 2 meter. Dengan demikian, baik pohon singkong maupun pohon pendamping lain seperti cabe dan terong sama-sama bisa tumbuh dengan baik.

    Terlebih, jika pohon pendamping tersebut merupakan pohon yang tidak membutuhkan banyak sinar matahari, hal ini merupakan kombinasi yang pas.

  11. Pemanenan
  12. Ketika pohon singkong sudah mulai berumur 8 bulan, pohon tersebut sudah menghasilkan umbi singkong yang bagus. Namun biasanya industri tepung atau bioetanol menghendaki umbi singkong yang berumur sekitar sepuluh bulan karena selain umbi tersebut berukuran lebih besar, umur dari umbi tersebut sangat berkualitas untuk dijadikan tepung.

    Sementara itu, umbi yang berumur 8 bulan sangat cocok untuk dimasak langsung seperti misalnya dibuat singkong rebus, singkong goreng, kripik singkong, kolak singkong, dan lain sebagainya. Umbi yang berumur 8 bulan memiliki rasa lebih enak dan lembut jika dibandingkan dengan umbi yang berumur lebih (daging umbinya terasa lebih keras).

    Singkong gajah yang siap panen ditandai dengan banyaknya daun singkong yang mulai menguning. Sebaiknya untuk memanen singkong, terlebih dahulu batang singkong ditebang dan disisakan batang sekitar 15-20 cm untuk pegangan pencabutan akar.

    Memanen singkong sebaiknya tidak menggunakan alat bantu seperti cangkul atau alat tajam lainnya karena dikhawatirkan akan melukai dan merusak bentuk umbi singkong yang hendak dipanen.

    Sebelum melakukannya, ada baiknya dilakukan penyiraman terlebih dahulu agar tanah di bedengan lebih lunak. Penyiraman ini bisa dilakukan di sore hari, lalu keesokan harinya singkong tersebut sudah bisa dicabut.

    Setelah melakukan pencabutan singkong, ada baiknya singkong-singkong tersebut dicuci terlebih dahulu agar tidak ada tanah yang menempel sebelum singkong tersebut mulai dipasarkan.

    Bagaimanapun juga, konsumen lebih memilih singkong yang bersih karena selain akan lebih adil ketika ditimbang, singkong tersebut juga enak dilihat dan mengundang perhatian untuk dibeli.

    Batang-batang singkong yang kira-kira tidak terlalu pucuk dan tidak terlalu bawah masih bisa digunakan sebagai bibit singkong dengan cara memotongnya dengan ukuran kurang lebih 20 cm. Selain bisa digunakan sebagai bibit untuk lahan sendiri, bibit tersebut juga bisa dijual kepada petani lain yang membutuhkan bibit.

    Sementara pucuk ujung singkong bisa dimanfaatkan sebagai makanan sapi, atau daun-daun muda yang baru muncul sangat bergizi untuk dimasak.

Peluang Bisnis Usaha Budidaya Singkong Gajah

peluang bisnis usaha budidaya singkong gajah

via pinterest.com

Budidaya singkong gajah merupakan bisnis yang menggiurkan lho. Betapa tidak, jika berhasil ditanam dengan baik, satu pohon singkong gajah bisa menghasilkan umbi singkong hingga 50 kg atau minimal 35-45 Kg per pohon.

Jika dibandingkan dengan singkong biasa, tentu hasilnya sangat jauh karena singkong biasa hanya mencapai hasil maksimal 10 kg per pohon dan rata-rata tiap pohon pada umumnya hanya menghasilkan sekitar 5-8 Kg umbi saja. Padahal, lahan yang dibutuhkan untuk menanam singkong jenis apapun boleh dibilang sama.

Idealnya, singkong gajah ditanam tanpa ada gangguan dari tanaman lain seperti misalnya penanaman tumpang sari. Dengan mengolah tanah terlebih dahulu agar menjadi subur dan gembur, tanaman singkong gajah bisa menghasilkan panen yang seolah-olah isi bedengan bukan lagi tanah melainkan singkong semua.

Ibaratnya, tanaman singkong ini mengubah tanah menjadi umbi singkong yang bisa kita konsumsi.

Modal dari budidaya singkong ini tidaklah mahal lho, kalau kita punya lahan sendiri artinya modal yang akan kita keluarkan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan sewa lahan.

Namun demikian, menyewa lahan untuk ditanami singkong tidaklah mahal, katakanlah untuk sewa satu hektar lahan selama satu tahun adalah empat juta rupiah, maka dengan hasil panen yang banyak kita bisa mendapatkan untung besar. Mari kita coba menghitung biaya produksi untuk budidaya singkong gajah.

Kita mengandaikan menggunakan lahan seluas satu hektar dan lahan tersebut merupakan lahan yang kita sewa. Kita andaikan harga sewa lahan tersebut selama satu tahun adalah 8 juta rupiah. Kita akan membutuhkan lahan tersebut selama delapan hingga sepuluh bulan masa tanam, dan satu bulan untuk persiapan.

Sementara itu, dalam satu hektar lahan, kita membutuhkan pupuk kandang kurang lebih 2 ton yang dapat kita beli dengan harga sekitar 1.000.000-1.500.000 rupiah, pupuk cair 500.000 rupiah, mikroorganisme tambahan 500.000 rupiah, ongkos pencangkulan dan pembuatan bedengan 1.000.000, dan pengairan 1.000.000. Angka ini merupakan angka kasar yang jumlahnya telah aku lebihkan.

Untuk bibit, dalam satu hektar lahan kita bisa menanam setidaknya 8000 pohon. Harga per bibit (satu stek) berkisar antara 500-700 rupiah (dan akan lebih murah jika kita membeli dalam jumlah banyak.

Modal untuk bibit ini kurang lebih adalah 8000x700= 5.600.000 rupiah. Jadi jika kita jumlahkan seluruh modal kita, maka kita membutuhkan 18.500.000 rupiah.

Dari modal tersebut, jika kita berhasil memperoleh umbi seberat 30 kg per pohon dan tiap Kg tersebut parah-parahnya dihargai 1000 rupiah saja, maka hasil yang akan kita peroleh adalah 8000x30x1000=240.000.000 rupiah. Banyak bukan?! Baiklah, coba angka tersebut kita kurangi lagi untuk biaya perawatan, penantian, dan pemanenan.

Anggaplah kita petani yang supel dan baik hati sekaligus agak boros sehingga membutuhkan 40 juta rupiah untuk merawat, menanti, dan memanen singkong ketika usia tanaman tersebut telah mencapai 8-10 bulan. Kita masih bisa mengantongi uang 200.000.000 rupiah lho.

Yang membuat bisnis ini sangat menarik adalah menanam singkong itu bukanlah pekerjaan yang sulit atau seribet menanam padi. Toh kita tidak memerlukan banyak pengeluaran untuk pupuk dan perawatan sehingga menanam singkong ini ibaratnya menggandakan uang dengan cara menanam di tanah (bukan ke dukun atau menjadi tukang kredit).

Fenomena ini sebenarnya bisa menjawab dan membantah mitos bahwa menjadi petani itu sama halnya menjadi orang miskin. Tidak demikian jika kita menanam singkong gajah. Dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan uang sebesar 200 jutaan.

Bandingkan jika kamu melakukan kerjaan lain seperti misalnya kerja kantoran atau PNS yang harus berangkat pagi pulang sore dan harus disiplin untuk mendapat gaji misalnya 10 juta perbulan (itupun kalau jabatanmu tinggi).

Tentu hasilnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan panen singkong yang kita bisa sambil ketawa-ketiwi, senyum-senyum ketika kita sedang menggarap sawah, menyiram singkong, dan menanti tumbuhan itu hidup hingga paling lama 10 bulan lamanya.

Bagaimana menurutmu? Menjadi petani tidaklah buruk kan? Akhir kata dari artikel ini, selamat mencoba bertani singkong gajah!

Sharing is Caring

«

»


KATEGORI

BACAAN TERKAIT

Copyright © 2018 BudidayaKitaContact / Privacy Policy / Copyright / IP Policy / Term of Service